SAKURA KARYA
Sunday, June 21, 2009

aku

Puisi by sakurasa
Sayangku
Sayangku
dapatkah kau dengara
lunan ombak yang
yang kau bawa..
Wednesday, April 1, 2009
.jpg)
puisi by sakurasa
Hembusan angin
menyelinap di kamar sepi ku
yang mengintai segala rahsia
dikamar sepi
dibalik langsir
tersingkap membuka
ruang yang luas
lurus dan kudus
terasing
amat sunyi
rasa menyerah
menangis luruh air mata
terdampar di ruang
tak bisa ku bersuara
menghening dalam takaful diri
ada KAU dalam hatiku
jernih dan hening
Wednesday, January 28, 2009
Friday, January 23, 2009

purnama menjelma
kau hadirdalam setiap relung hati ku
dalam setiap relung hari ku
ingin ku nukilkan puisi nan syahdu
ku persembahkan untuk mu
ku jadikan bunga sebagai hadiah untuk mu
menghiasi malam yang indah ini
jatuh menitis rimbunan cemara kehidupan
berhembus perlahan merasuk di jiwa ini
tak kuasa ku membiasnya
meskipun aku tak ingini
aku jatuh cinta lagi…
Thursday, November 20, 2008
segala rindu terbelenggu
yang kau tinggalkan
indah menghias malam
jernih dan berkaca
Monday, November 3, 2008

Di bawah sinaran rembulan
di balik taburan rindu
wajahmu terbayang

tapi kini kau pergi dari hidupku
Kini tinggal hanya kenangan
Wednesday, May 14, 2008
haiku
Tuesday, April 29, 2008
Malam Yang Sepi

Suram malam tak berbintang
Itulah lukisan alam
Dalam bisu keheningan malam
Sekilas kenangan syahdu
Sentiasa memburu jiwaku...
Mengapa masih ada rindu
Yang tertanam erat di kalbu ?
Oh Tuhanku
Kurniakanlah aku ketabahan hati
Dalam mengharungi kehidupan ini
Agar tidak aku terus hanyut
Dibuai mimpi-mimpi semalam
Malam yang sepi
Yang menyentuh hati
Kurasa terharu menginsafi diri
Malam yang sepi
Kupasrah kepadaMU
Bila Purnama

Bila purnama
sepi melamar dijendela kalbu
ku singkap tirai cinta
ku tatap sayu untaian rindu
Bila purnama
rindu menggamit diriku
terkenangkan dirimu
terasa sayu hatiku
syahdunya jiwaku
Bila purnama
jauh terbang diriku melayang
ku titipkan hembusan rindu di angin lalu
mengertilah bisikan hatiku
Ya Allah

Ya Allah
Jangan biarkan daku
Terbang di awan-awanan
Tanpa arah dan tujuan....
Ya Allah
siramilah iman subur keinsafan
membersihkan jiwa yang ternoda
Ya Allah
ku mohon hadir kasih-Mu
mengisi ruang lubuk hatiku
agar tersisih rasa gundah
Ya Allah
hatiku merayu rindu
kasihku pada-Mu syahdu
mengharap kasih sayang-Mu
Ya Allah
entah berapa banyak hamba-Mu ini
berbuat kelalaian
namun pengampunan-Mu
tidaklah berbatas
Ya Allah
labuhkanlah tirai harimu
dengan keampunan-Mu
di dalam alpa tertempa dosa
aku insan yang lemah
Ya Allah
andai keampunan ini izinkan
dosa nodaku pergi
meninggalkanku buat selamanya
semoga redhaMu bersamaku
Buat Dian Perjuangan

Dalam kabus samar
mengejar bayangan kebebasan
bersandarkan debu ideologi
berterbangan di awang-awangan
tak mampu membina batas pemisah
dan dicengkam pencabus kedamaian
Di bumi gersang ini
bergelut dengan penderitaan
bergelumang dengan kesengsaraan
menyeret pepecahan
memutus silaturahim
Marak membakar api jihat
demi bumi suci ini
ingin menjadi peluru
yang mampu menerobos
ke dalam diri
panghancur leburkan keamanan
di jagat ini
Sekalung doa
agar terpancar sinar
rahmat dan kasih sayangNYA
buat pahlawan unggul
korban syahid
Ramadhan Yang Mulia

Ramadhan yang mulia
mengibarkan sayapnya
bahagia menyelubungi
bersyukur dipertemukan semula
Ramadan yang mulia
dilimpahi kemuliaan
melangit tinggi
dilipatan seni mehnah Ilahi
didalam kesyahduan
Ramadan yang mulia
menahan rohani dan rasa
menginsafi kedhaifan
Penyingkap hijjab
antarahamba dengan Ilahi
Semusim berlalu

Di kamar sepi ini
tinta waktu yang berlalu
memahat lakaran duka
menyelinap memori sendu
kenangan yang tak mampuku lemparkan jauh...
semusim berlalu...
tinggal nyanyian syahdu sang unggas
daun-daun yang gugur layu
reranting kering menunggu waktu...
kuntum-kuntum kasih berguguran
bertaburan di bumi
antara rekahan rindu
semusim berlalu...
tinggal kenangan
menepias duka hati tiada bertepi
buat sebuah mimpi
di hujung sebuah kerinduan
Peneraju Negara
bagai dianseluruh hidupmu
berbakti untuk semua
perjuanganmu
demi generasi depan
Kau yang ku banggakan
bagai mentari
memancarkan sinar keamanan
membelai kehidupan rakyat
pelbagai pelapis
Kau yang ku sanjungbagai salju
menyejukkan pergolakan
dan cabaran yang mendatang
Kaulah insan mulia
Allah ciptakan kau
untuk membawatitik-titik embun penyegar
dan semarak aroma
untuk menegak keadilan
negara tercinta
berasaskan petunjuk
yang Maha Esa
Berguguran

gugur sudah keriangan
impian yang terleai
sedih sendu sendirian
berteman bunga-bunga cinta
tiada harum dan madu
deraian cinta nan suci
layu di pusaradi laman rindu
dihembus kenangan lalu
tinggal dalam penantian abadi
kini ku miliki hanya bayanganmu
Buat yang tersayang

Bila setianya embun menitis
lalu membasahi permukaan
seakan terngiang ngiang ditelingaku
merdunya iramadari nyanyian rindu....
inginku bisikan pada unggas
dan ku pinta camar meniupkan
pendaman rinduku padanya
jua titipan salam sayang
buat dia yang amatku sayang
Hati Seorang Ibu

Anakku
di sebalik jendela duka
ibu tabah meniti waktu silih berganti
dan rindu membuak bergelora di dada
ibu tetap menunggu kepulangamu
Anakku
bukan ringgitmu
bukan jua hartamu
yang ibu pinta
tetapi hadirmu
yang ibu ingini
untuk membalut rindu
mengubat hati yang terpisah jauh
di desa sunyi ini
Anakku
hadiahi ibu sekelumit ruang waktu
untuk menemai ibu di sini
dan cubalah belajar anakku
menyelami tasik hati
seorang insan yang bergelar ibu
Monday, April 28, 2008
Haiku
Haiku
Secebis Mimpi Di Hujung Senja

hanya sementara di persinggahan ini
sebelum Ibu berangkat
ke daerah yang jauh dan abadi
Ibu terlalu mengharapkan
Ibu dapat berkerudung
sewangi kesturi
berkalung mutiara daripada doamu
berhamparan baldu daripada imanmu
hadiah daripada seorang anak
yang soleh
itulah mimpi ibu
agar Ibu nanti
tenang dan damai
diiringi wangi
bunga-bunga kasihmu
Satu

Satu demi satu senyuman hipokrit
satu demi satu kata-kata membunuh
satu demi satu terbentang batas pemisah
Satu pelayaran tersadai di muara mimpi
satu penantian di pelabuhan resah yang panjang
satu pertanyaan memburu kepastian
benarkah aku kekasihmu yang satu?
Ku Sebut Nama Mu
Aku

aku bukan lagi pungguk
menyanyi lagu sedu
merindu wajah purnama
Dalam semarak keresahan
aku bukan lagi api
yang membakar cintamu
Dalam gelora semudera
aku bukan lagi pantai
yang setia menanti ombak
Dalam rimbunan hijau
aku bukan lagi dedalu
menumpang kasih
di dahan rapuh
Aku bukan lagi aku
yang pernah kau kenal dulu
Aku telah terlalu lama
menelan kepahitan
meresap di jiwa membakar
bagai api dalam sekam
Kini aku
telah mengenal cinta NYA
cinta yang kekal abadi
hingga akhir nanti
Tanka
kesayanganku
Di Ufuk
melihat aku



























